Categories
Article

Belajar Properti Dari Warga Desa Terpencil

Langka kita mendengar warga kampung membahas, “Apa sesungguhnya arti kesuksesan itu? Bagaimana management keuangan itu? Usaha apa yang akan kita kelola di masa depan?” Jika ada, itu karena sudah bertransformasi ke wilayah kota atau kampus.

Bila kita berjalan-jalan ke sebuah desa terpencil. Desa yang penuh dengan hijau hamparan ladang dan sawah, bahkan tidak masuk daftar peta dunia, kebahagian warganya adalah ketika melihat tanamannya tumbuh subur dan berbuah. Keceriaan bocah-bocah kecil hanya mandi bersama teman sebaya di tepi sungai, sambil menunggu senja tiba untuk kembali membawa sapi-sapi gembalaan pulang ke kandangnya. Dari masa itu sampai tua hidup mereka masih berjalan sesuai keadaan. Apakah mereka mati karena gantung diri atau kelaparan?

“Tidak.”

Itu karena mereka punya asuransi yang menjamin hidup mereka, bahkan tidak berpikiran ikut asuransi jiwa sekalipun. Jika anda lakukan survey perbandingan usia warga desa dengan kota, sangat jelas usia warga desa lebih panjang. Kenapa demikian? Mereka tidak stres karena hutang, tidak ada rawan kecelakaan kendaraan, makanan bumbu berasal dari tanam alami. Kelangsungan hidup mereka dengan cara mengelola properti mereka sendiri dengan berkebun. Mereka tidak berpikir bergabung dengan perusahaan asuransi jiwa yang iurannya ratusan ribu perbulan, bila mati kecelakaan atau sakit dibayar ratusan juta.

Properti itu tidak hanya berupa bangunan rumah, hotel, villa, atau apartemen, tapi juga termasuk di dalamnya lahan atau tanah.

Sekarang anda hidup di wilayah perkotaan. Jika ingin hidup tenang maka kuncinya adalah properti. Jika warga desa mendapatkan properti dari riwayat keturunan, anda bisa saja memiliki properti dengan cara memahami kapasitas anda untuk mendapatkannya. Bila berhutang, dapatkan dengan cara mengukur kapasitas, bila cara gratis, sering-sering baca artikel website ini, bila mengharap harta warisan, nikah dengan anak orang kaya.

Sederhana, silakan laksanakan!

Bila sudah, fungsikan properti anda sesuai fisiknya. Rumah kos untuk disewa bulanan, hotel/villa untuk disewakan harian. Lahan kosong untuk disewakan tanah perkebunan. Bila dibangun perumahan, kerjasamakan dengan developer yang benar. Bukan amatiran. Unit jatah rumah anda jangan dijual semua, lebih baik sebagian disewakan.

Fungsikan properti anda sesuai lokasinya
Rumah kos di wilayah kampus dan bisnis. Hotel di perkotaan atau transit perjalanan. Tiap properti sesuaikan dengan fisik dan lokasinya, karena tiap lokasi memiliki market tersendiri.

Jangan dibalik, rumah kontrakan anda beli di wilayah kebun, yang nyewa hanya pelaku mesum dan babi hutan. Hotel anda bangun di lahan kuburan, yang nginap cuma hantu dan sundel bolong. Kenapa begitu, karena sundel bolong punya hobbi mesum juga, makanya jadi bolong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *