Categories
Article

Masih Pacaran, Sudah Ribut Dengan Hutang

Pernahkan anda melihat sitplan sebuah proyek properti ketika mulai dipasarkan? Baru launching beberapi hari, blok/posisi rumah pilihan sudah diberi tanda booking.

Itu bukan karena kapling rumah itu laku terjual, melainkan bagian strategi keuangan developer properti jika sewaktu-waktu membutuhkan uang lebih. Karena posisi pilihan akan tetap jadi pilihan, dan lebih mudah terjual jika sewaktu-waktu mau dijual.

Itulah sebabnya ada tips nekat dari seorang dara muda bernama Villya C.Purba dalam sebuah artikel di Majalah Property-In bulan Okt 2015.

“Jika Anda kaum muda milenial, jangan menikah dulu jika ingin investasi properti.”

Ini syarat yang berat, karena kayaknya bakal ribut dengan sang calon istri. Karena lebih memilih membayar properti daripada membayar hutang calon istri.

Janji menikah adalah hutang juga. Hal yang wajar jika perempuan kebelet kawin. Yang penting jangan disuruh bayar hutang pribadi dulu sebagai syarat kawin. Kecuali hutang properti.

Properti adalah bagian dari financial insurance, sewaktu-waktu bisa berfungsi sebagai pelunas hutang dadakan, terlepas bagaimana cara anda mendapatkan properti itu sebelumnya. Jika anda membelinya secara kes, anda bisa jual dengan cara kes pula. Jika anda memilikinya dengan cara KPR, maka anda bisa menjualnya dengan cara over kredit, dan peminatnya lebih banyak.

Katakan sama calon istri anda, “Sayang, nikahnya batal dulu, ya. Hutang bayar masing-masing saja.”

Plakk

Anda ditampar, putus hubungan, tapi masa depan yang terang sudah menunggu. Kelak, Anda akan bertemu calon istri yang siap Anda nikahi. Lebih cantik, lebih mandiri, gaji mantap, rajin ibadah, setia dan pinter masak. Sayangnya, dia menolak menikah dengan Anda. Karma, deh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *